HALAL BI HALAL IKABU ROTIB BUMIAYU merupakan kegiatan untuk mengukuhkan tali Silaturahmi, kerukunan dan menumbuhkan rasa kebersamaan antar Keluarga besar alumni Bahrul Ulum Tambakberas Jombang yang bersal dari eks karesidenan Bumiayu. Pada tahun ini dilesenggarakan di GOR Nurul Hikmah Barupring Linggapura Kecamatan Tonjong. Kegiatan berlangsung pada Kamis, 26 Mei 2022. Adapun pembicara pada halal bihalal tersebut KH. Azam Khoiruman Najib Wahab, pengasuh pondok pesantren Bahrul Ulum. Sedangkan KH. Drs. Muhammad Fadlulloh Malik Hamid yang sedianya akan hadir ternyata berhalangan dikarenakan kondisi kesehatan.
BERITA DUKA: KH Jamaludin Ahmad Berpulang ke Rahmatulloh
Pengasuh Ribath Bumi Damai Al-Muhibbin PPBU (Pondok Pesantren Bahrul Ulum) Tambakberas Jombang, Jawa Timur, tutup usia, Kamis (24/2/2022) setelah subuh. Rencananya, kiai kharismatik tersebut dimakamkan siang ini di pesantren setempat.
Meninggalnya Kiai Jamal dibenarkan oleh Ketua Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas Jombang KH Wafiyul Ahdi. “Betul, beliau meninggal dunia setelah subuh tadi,” kata Gus Wafi, panggilan akrab KH Wafiyul Ahdi.
Kabar meninggalnya Kiai Jamal membuat banyak orang kehilangan. Sejak pagi, petakziah berdatangan ke rumah duka untuk melepas kepergian sang kiai. Para prakziah juga ikut mensalati jenazah tersebut secara bergelombang.
Sesuai rencana, jenazah Kiai Jamal dimakamkan setelah zuhur di kompleks Ribath Al-Mardiyah di samping makam sang istri, Nyai Churriyah. Di rumah duka, petakziah masih berdatangan. Kalah illahi juga terdengar dari pengeras suara.
Kiai Djamaluddin dikenal sebagai sosok kiai kharismatik. Almarhum memiliki pengajian rutin kitab Al Hikam setiap Senin malam. Pengunjung yang hadir dalam pengajian tersebut dari berbagai daerah. Almarhum juga tokoh tarikat Syadziliyah.
Moh. Djamaluddin bin Achmad lahir pada 31 Desember 1943 di kampung Kedungcangkring Desa Gondanglegi Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk. Almarhum menghabiskan pendidikannya di pesantren Tambakberas Jombang. Kiai kelahiran Nganjuk ini kemudian diambil sebagai menantu dari KH Fattah Hasyim, pendiri Madrasah Muallimin Muallimat 6 Tahun Bahrul Ulum Tambakberas. [suf]
https://beritajatim.com/peristiwa/kabar-duka-dari-jombang-kh-djamaluddin-achmad-tutup-usia/
SEJARAH BERDIRINYA IKABU
IKABU merupakan kependekan dari
“Ikatan Keluarga Alumni Bahrul ‘Ulum,”, sebuah induk resmi organisasi alumni
Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum yang memiliki wewenang pengelolaan alumni Pondok
Pesantren Bahrul ‘Ulum pada berbagai bidang. Salah satu latar belakang pendirian
IKABU di tahun 2007 yaitu adanya tuntutan dari beberapa kalangan alumni kepada
pihak Yayasan Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum untuk memprakarsasi pembentukan
sebuah badan resmi alumni Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum yang berada di
struktural Yayasan.
Awal Mula Ide Mencetuskan IKABU
Kemunculan IKABU sebagai induk seluruh alumni Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum
jika ditelusuri dari kronologis historis kemunculannya tentu tidak lepas dari
peran HIMMABA, bukan serta merta salah satu pendirinya merupakan ketua HIMMABA
akan tetapi disebabkan karena HIMMABA berperan besar dalam penggagasan ide
untuk mendirikan organisasi alumni skala nasional.
Sebagaimana dijelaskan dalam arsip organisasi HIMMABA, bahwasahnya pada 21
September 2003 diadakanlah agenda HIMMABA In Live dimana salah satu rangkaian
kegiatannya adalah Temu Kader Raya Alumni Bahrul ‘Ulum. Agenda tersebut
diprakarsai oleh HIMMABA Komisariat UIIS (UIN Maliki Malang: sekarang)
mengingat pada masa itu belum terbentuk HIMMABA Cabang sebagai komando
tertinggi HIMMABA, yang ada baru FK-2 yang hanya berperan sebagai penyambung
lidah antar komisariat. Alhasil Dwi Hidayatul Firdaus dan Anang Sugiarto
didaulat menjadi ketua dan sekretaris pelaksana kegiatan tersebut. Tujuan utama
Agenda utama Temu Kader Raya tersebut selain untuk menyambung sillaturrahmi
antar alumni Bahrul ‘Ulum juga membahas tentang titik temu dimanakah posisi
alumni Bahrul ‘Ulum dalam kelembagaan Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum, mengingat
sebelumnya telah bermunculan himpunan-himpunan mahasiswa alumni Bahrul ‘Ulum di
berbagai daerah seperti HIMMABA di Malang, HIMABU di Yogyakarta, HISAB di
Kediri, HIMABI di Jakarta, dan IMABAYA di Surabaya.
Forum alumni yang dihadiri delegasi dari daerah Surabaya, Kediri, Jakarta,
Pasuruan, Bandung, Malang serta dari Keluarga Pondok Pesantren Bahrul 'Ulum
menghasilkan tiga poin rekomendasi yang nantinya adan disampaikan kepada Majlis
Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum dan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul
‘Ulum untuk dipertimbangkan. Adapun tiga poin yang dihasilkan dalam forum
tersebut antara lain:
·
Mengharapkan adanya struktur Alumni Pondok
Pesantren Bahrul 'Ulum dari Yayasan Pondok Pesantren Bahrul 'Ulum (YPPBU)
·
Mengharapkan adanya penyatuan Forum Alumni
Bahrul 'Ulum tanpa adanya perbedaan Alumni di tingkatan Madrasah, Asrama,
Mahasiswa dan Organisasi Daerah (ORDA).
·
Adanya tindak penyatuan Alumni Pondok
Pestantren Bahrul 'Ulum Tambakberas Jombang.
Tiga poin diatas inilah yang menjadi awal mula perjuangan untuk
membentuk organisasi alumni dalam kelembagaan Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum
mengingat dibeberapa Pondok Pesantren lain sudah terlahir organisasi demikian
seperti IMAS Sidogiri (IAAS: Sekarang), IKAPPMAM Denanyar serta IKAPETE
Tebuireng. Hasilnya pada tahun 2007 melalui amanat Almaghfurullah KH. Amanullah
RA sebagai majlis pengasuh PPBU (Pondok Pesan tren Bahrul ‘Ulum) dan
Almaghfurullah KH. Taufiqurrohman Fattah sebagai ketua YPPBU (Yayasan Pondok
Pesan tren Bahrul ‘Ulum) disepakatilah pendirian IKABU (Ikatan Keluarga Alumni
Bahrul ‘Ulum) sebagai organisasi yang berperan menghimpun dan merangkul seluruh
alumni PPBU dari segala kalangan. Melalui rapat perdana IKABU yang juga
dilaksanakan pada 2007 terpilihlah (Alm) In’am Sulaiman sebagai ketua IKABU
periode pertama. Salah satu gebrakan besar peiode pertama ini adalah gagasan
menyatukan alumni Bahrul ‘Ulum yang akhirnya terwujud melalui kegiatan
“Silaturrohmi Nasional (SILATNAS)”, dimana kegiatan tersebut dilaksanaan
dilaksanakan menjelang puncak Haflatul Kubra Pondok Pesantren Bahrul
‘Ulum.
Mandataris Organisasi
Pada tahun 2010 IKABU berduka seiring dengan dipanggilnya kehadirat ILAHI ROBB
SWT ketua IKABU pertama “In’am Sulaiman”, tepat sebelum menjelang
dilaksanakannya Musyawarah Nasional (MUNAS) IKABU kedua. Alhasil Gus Taufiq
Djalil yang juga merupakan salah satu pendiri HIMMABA didaulat sebagai ketua
sementara guna menyiapkan keperluan MUNAS IKABU. Pada tahun 2011 MUNAS IKABU
kedua berhasil memilih “Gus Taufiq Djalil” sebagai ketua IKABU kedua yang
mendapat amanat memimpin IKABU dalam kurun waktu 2011-2015. Salah satu gebrakan
besar dari kepemimpinan Gus Taufiq yaitu keberhasilan membentuk FORMABU (Forum
Mahasiswa Alumni Bahrul ‘Ulum) sebagai kaki tangan IKABU yang mempunyai
otoritas dibidang mahasiswa alumni Bahrul ‘Ulum. Keberhasilan membentuk FORMABU
akhirnya berdampak pula pada MUNAS IKABU yang dilaksanakan pula pada tahun
2015 dimana Gus Taufiq Djalil kembali terpilih sebagai ketua IKABU
periode 2015-2019. Berikut daftar ketua IKABU mulai tahun 2007 hingga 2019
kedepan.
|
NO |
NAMA |
PERIODE |
TAHUN MENJABAT |
|
|
1. |
(Alm)
In’am Sulaiman |
Periode I |
2007 – 2010 |
|
|
2. |
Taufiq
Djalil (PJs) |
Periode I |
2010 - 2011 |
|
|
3. |
Taufiq
Djalil |
Periode II |
2011 – 2015 |
|
|
4. |
Taufiq
Djalil |
Periode III |
2015 - 2019 |
|
|
Sumber: Official Fan Page
Facebook IKABU |
||||
Mengacu pada AD-ART IKABU, Sktruktur kepengurusan IKABU terdiri dari kepengurusan pusat yang berinduk di Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang, Pengurus Cabang di Kabupaten / kota, dan Anak Cabang di Kecamatan. Selain itu juga terdapat dua badan otonom dari IKABU yang bertugas menangani bidang khusus yakni BMT Rizqonah yang menangani masalah pengelolaan baitul mal organisasi dan FORMABU yang menangai alumni Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum kategori mahasiswa.
Referensi :https://www.slownanda.net/2017/05/sorot-mengenal-ikabu-organisasi-formil.html
Halal Bihalal IKABU 2021/1442
Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum (IKABU) Konsulat Bumiayu mengadakan Kegiatan Halal bihalal, Haul Muassis, masyayikh dan Alumni Bahrul Ulum Tambakberas Jombang pada Ahad Kliwon, 22 Agustus 2021/13 Muharram 1442 H di Aula SMK Wicaksana Pondok Pesantreb Al Hikmah 2 Benda. Hadir pada acara ini, KH. Abdul Wahab Yahya ( Gus Wahab ) dan Gus Amin, Dzuriyyah dan pengasuh Bahrul Ulum Tambak Beras.
MARS BAHRUL ULUM TAMBAKBERAS JOMBANG
Sejarah dan Pencipta Mars bahrul Ulum, KH Wabdul Wahid Bahsori,Mukim di desa Sendangagung Kec. Paciran Kab. Lamongan Jawa Timur. Santri sejak tahun 1971 -1985.
Simak video beliau di sini Pencipta Mars bahrul Ulum atau disini
Mengoleksi dan Mengoreksi Foto-foto Kiai Wahab Chasbullah
Biasanya yang disebut para pendiri NU itu adalah tiga kiai, yaitu Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari (w. 1947), Kiai Abdul Wahab Chasbullah (w. 1971), dan Kiai Bisri Syansuri (w. 1980). Walaupun, sebenarnya pendiri NU itu banyak, yaitu para ulama besar selain tiga kiai utama tersebut. Kiai Cholil Bangkalan yang merupakan guru dari Kiai Hasyim juga disebut sebagai pendiri NU, begitu juga Kiai Faqih Maskumambang Gresik yang disebut-sebut sebagai Wakil Rais Akbar. Kiai Mas Alwi Abdul Aziz yang menamai Nahdlatul Ulama, Kiai Ridwan Abdullah yang membuat lambang NU, juga Kiai Abdul Chalim Leuminding yang merupakan Wakil Katib dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pertama kali, adalah di antara para ulama pendiri Nahdlatul Ulama, dan masih banyak lagi. Pertanyaannya, mengapa biasanya yang disebut pendiri NU diwakili oleh tiga kiai Jombang yaitu Kiai Hasyim, Kiai Wahab, dan Kiai Bisri? Karena di samping merupakan para kiai yang berperan besar dalam awal pembentukan NU, ketiga kiai tersebut juga adalah pimpinan tertinggi NU secara berurutan. Kiai Hasyim adalah pemimpin tertinggi NU yang pertama, sebagai Rais Akbar. Beliau wafat digantikan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah, dan ketika wafat digantikan KH Bisri Syansuri, dengan jabatan tertinggi di NU, Rais 'Aam. Dalam bakal buku edisi foto Kiai Wahab Chasbullah dengan jumlah halaman xx+ 97 halaman ini, Moch Faisol berhasil menemukan 60-an foto Kiai Wahab yang ada dalam empat puluh momen atau konteks peristiwa. Sebagaimana foto Kiai Hasyim Asy'ari yang ditemukan pada Muktamar 1939 di Magelang, dan empat foto yang lain, yaitu pada 1914, 1942, 1944 dan 1947, foto-foto Kiai Wahab semuanya hitam putih, sebab film atau klise foto berwarna baru masuk dan populer digunakan di Indonesia setelah tahun 1971, sementara Kiai Wahab Chasbullah wafat pada 29 Desember 1971. Foto Kiai Wahab yang sendirian ditemukan ada 12 buah, yang bersama Kiai Bisri Syansuri ada 2 buah, yang bersama Kiai Hasyim Asy'ari, Kiai Bisri Syansuri (sebagai tiga pendiri NU) ada satu buah, dan sisanya adalah foto Kiai Wahab dengan para ulama atau tokoh-tokoh lainnya. Foto terawal Kiai Wahab Chasbullah ditemukan ketika beliau berusia 48 tahun, yaitu foto pada Konferensi ANO (Ansor Nahdlatoel Oelama) di Kantor NU Surabaya pada 1936, bersama para peserta. Adapun foto pertama close up termuda, ditemukan pada 1940. Sementara, foto Kiai Wahab bersama Kiai Maksum Ahmad, Lasem, dan Kiai Bisri Syansuri pada Muktamar NU ke-25 di Surabaya, pada 1971, adalah foto terakhir beliau.

[Waktu: Sekitar 1940 Tempat: Studio foto Peristiwa: - Jenis foto: Monokrom Status tashih: Belum sahih Pentashih: Binhad Nurrohmat Sumber asal: Website Diperoleh dari: Binhad Nurrohmat, 20 September 2019]
Gambar wajah di atas merupakan foto pertama close up dari KH A Wahab Hasbullah termuda, yang bisa ditemukan. Melihat latar belakang foto, pengambilan foto dilakukan di studio foto (indoor). Menurut Binhad Nurrohmat (cucu menantu KHA Wahab Hasbullah), foto ini awalnya diperoleh dari website. Sayang alamat website-nya lupa dan malah kini juga sudah tidak bisa diakses lagi. Sehingga belum bisa dilacak dari mana sumber awalnya foto ini. Dalam foto-foto Mbah Yai Wahab Chasbullah sebelum tahun 1952, seluruhnya memang belum memakai kacamata. Foto pertama yang memakai kacamata adalah saat mengikuti Muktamar NU ke-19 di Palembang tahun 1952. Dengan fokus ke foto, maka kita bisa melihat, bahwa Kiai Wahab di samping biasa berkopiah putih, juga berkopiah hitam, dan kadang juga memakai penutup kepala dari serban seperti yang terlihat pada foto beliau di tahun 1939 saat Muktamar NU di Magelang dan pada 1949, ketika beliau mengikuti Muktamar Masyumi pada 15-19 Desember 1949.

[Salah satu foto KH Wahab Chasbullah mengenakan serban sebagai penutup kepala]
Dengan telaah secara seksama atas foto-foto Kiai Wahab juga dapat dikenali, ada masa beliau belum memakai kaca, dan ada masa memakai kaca mata. Foto Kiai Wahab sebelum tahun 1952, adalah masa beliau belum berkacamata. Foto pertama yang memakai kacamata adalah saat beliau menghadiri Muktamar NU ke-19 di Palembang pada 1952. Buku biografi foto Kiai Wahab ini juga memuat foto dan narasi yang menyebut nama Kiai Wahab, padahal sebenarnya bukan. Pertama, ada kiai yang berkacamata, dan bertutup kepala serban sedang berdiri di hadapan para Muktamirin dalam Muktamar NU ke-6 di Cirebon pada 1931 yang dinarasikan sebagai sosok Kiai Wahab, padahal bukan. Setelah Moch Faisol diskusikan dengan ahli sejarah NU, Mun'im DZ, foto itu lebih tepat jika disebut sebagai foto Kiai Raden Asnawi Kudus. Sebab, pada tahun 1931 itu, Kiai Wahab belum berkacamata, dan belum ditemukan foto beliau dengan memakai tutup kepala serban.

[Waktu: 24-27 Agustus 1931 Tempat: Masjid Agung Cirebon Peristiwa: Muktamar NU ke-6 Jenis foto: Monokrom Status tashih: Belum sahih Pentashih: - Sumber asal: - Diperoleh dari: Twitter (@Santri_Media), 14 Juli 2019] Foto di atas diunggah oleh akun Twitter SantriNews.com dengan akun @Santri_Media.
Meskipun tidak ditulis bahwa tokoh yang sedang berdiri itu adalah Kiai Wahab, namun foto ini dipakai sebagai ilustrasi tentang sosok KHA Wahab Chasbullah. Sekilas memang mirip dengan Kiai Wahab. Namun, melihat serban yang dipakai dan sudah berkacamata maka tidak mungkin jika tokoh ini KHA Wahab Chasbullah. Pada tahun 1931 Kiai Wahab belum berkacamata dan lebih sering memakai kopiah bukan serban. Kedua, foto dengan keterangan berdoa bersama Bung Karno di Jakarta, 1960. Kiai yang terlihat tanpa kaca mata bersama Bung Karno dianggap Kiai Wahab, padahal bukan. Bentuk fisik Kiai tersebut berbeda dengan Kiai Wahab. Kiai Wahab sudah memakai kacamata pada foto di tahun 1952.

[Yang benar ini bukan Kiai Wahab, karena bentuk wajah Kiai Wahab itu agak bulat, tidak lancip dan tidak pernah berkumis. Apalagi, pada tahun 1960-an beliau lekat dengan kacamata]
Ketiga, ada foto Kiai pada Muktamar NU ke-24 di Bandung pada 1967 dengan keterangan Rais 'Aam NU KH. Wahid Wahab Chasbullah. Yang benar, foto itu adalah Kiai Maksum Ahmad Lasem, dan Rais 'Aam pada 1967 adalah KH Abdul Wahab Chasbullah. Jadi, di situ terdapat dua kesalahan sekaligus, yaitu pada foto dan pencantuman nama.

[Ada kekeliruan pencantuman nama dan gambar wajah. Yang benar ini Kiai Maksum Ahmad Lasem]
Fakta bahwa ada kekeliruan foto, ada kekeliruan tahun, tempat, dan konteks, adalah bukti bahwa tidak mudah untuk menginterpretasikan foto, dan karena itulah perlu wawasan sejarah pada umumnya, dan khususnya sejarah NU, juga perlu tashhih dari pakar NU, dan dzuriyah para pendiri NU. Inilah pentingnya buku Biografi Foto. Buku ini pada mulanya direncanakan terbit dengan tiga jilid. Namun, dalam pertemuan dengan Moch Faishol, penulis mendapatkan informasi bahwa ada perubahan, sehingga tidak ada lagi penyebutan jilid 1, 2, dan 3, tapi langsung buku Biografi Foto Kiai Bisri Syansuri (edisi terbitan tersendiri), edisi buku Biografi Foto Kiai Wahab Chasbullah (edisi terbitan tersendiri), dan edisi lengkap buku Biografi Foto Tiga Kiai Pendiri NU. Direncanakan edisi lengkap buku ini akan memuat secara berurutan tahun terawal ditemukannya foto tiga kiai pendiri NU tersebut, yaitu foto Kiai Hasyim Asy'ari, pada 1914 hingga 1947, foto Kiai Wahab Chasbullah dari 1936 hingga 1971, dan foto Kiai Bisri Syansuri, dari 1936 hingga 1980.

[Gambar sampul bakal buku biografi foto Kiai Wahab karya Moch Faisol] Buku ini juga memuat Syair Subbanul Waton yang dikarang oleh Kiai Wahab. Syair penggugah semangat berbangsa ini antara lain dimuat di buku NU Penegak Panji Ahlussunah wal Jamaah karya KH. Hasyim Latif (1979), Pertumbuhan dan Perkembangan NU karya Choirul Anam (1985), dan yang sedang banyak diperbincangkan, karya para dzuriyah Pesantren Tambakberas Jombang, buku Tambakberas Menelisik Sejarah Memetik Uswah (2017). Yusuf Suharto, Dosen Aswaja di Institut Pesantren KH. Abdul Chalim, Mojokerto
Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/121085/mengoleksi-dan-mengoreksi-foto-foto-kiai-wahab-chasbullah












.jpeg)
.jpeg)


















.jpeg)







.jpeg)

.jpeg)



.jpeg)

.jpeg)








.jpeg)
.jpeg)












.jpeg)








.png)
.png)